5 Cara Mengetahui Informasi Hoaks atau Fakta
Kategori: Literasi DigitalUntuk: Pelajar, mahasiswa, guru, dan pembaca umumPerpustakaan Usmani Setiap hari kita menerima berbagai informasi melalui media sosial, grup percakapan, video pendek, hingga situs berita. Informasi tersebut dapat menyebar dengan sangat…

Kategori: Literasi Digital
Untuk: Pelajar, mahasiswa, guru, dan pembaca umum
Perpustakaan Usmani
Setiap hari kita menerima berbagai informasi melalui media sosial, grup percakapan, video pendek, hingga situs berita. Informasi tersebut dapat menyebar dengan sangat cepat, bahkan sebelum kebenarannya diperiksa.
Masalahnya, informasi yang sering dibagikan belum tentu informasi yang benar. Judul yang mengejutkan, foto yang terlihat meyakinkan, atau pesan yang dikirim oleh banyak orang juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa informasi tersebut adalah fakta.
Karena itu, kemampuan membedakan hoaks dan fakta merupakan bagian penting dari literasi digital.
Apa Itu Hoaks?
Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disajikan sehingga dapat membuat seseorang mempercayai sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta.
Namun, perlu dipahami bahwa informasi keliru tidak selalu sengaja dibuat untuk menipu. Ada pula informasi salah yang tersebar karena seseorang tidak memeriksa kebenarannya sebelum membagikannya.
Itulah sebabnya kita perlu membangun kebiasaan sederhana:
Baca, periksa, bandingkan, baru bagikan.
Berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengetahui apakah suatu informasi merupakan hoaks atau fakta.
1. Periksa Sumber Informasinya
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah dari mana informasi tersebut berasal.
Jangan hanya membaca isi pesan. Periksa siapa yang menerbitkannya, apakah penulisnya diketahui, apakah terdapat sumber yang dapat diverifikasi, dan apakah situs atau lembaga penerbitnya jelas.
Misalnya, ketika mendapatkan informasi mengenai kebijakan pemerintah, sebaiknya cari konfirmasi melalui situs resmi instansi pemerintah terkait atau media berita yang memiliki proses editorial.
Waspadai pesan seperti:
“Info dari orang dalam.”
“Katanya sudah resmi.”
“Sebarkan ke semua grup.”
Jika tidak disertai sumber yang dapat diperiksa, jangan langsung mempercayainya.
2. Jangan Terkecoh oleh Judul
Hoaks sering memanfaatkan judul yang dibuat sangat menarik, mengejutkan, menakutkan, atau memancing kemarahan agar orang segera mengklik dan membagikannya.
Misalnya:
“VIRAL! Mulai Besok Aturan Ini Berlaku untuk Semua Orang!”
Sebelum percaya, buka dan baca informasi secara lengkap. Periksa apakah isi artikel benar-benar sesuai dengan judulnya.
Judul juga dapat mengambil satu bagian kecil dari sebuah peristiwa kemudian menghilangkan konteks penting sehingga pembaca memperoleh kesan yang berbeda dari fakta sebenarnya.
Karena itu, jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan judul, thumbnail, atau potongan video.
3. Bandingkan dengan Sumber Lain
Jika suatu informasi penting benar-benar terjadi, biasanya terdapat sumber lain yang juga membahasnya.
Cobalah mencari kata kunci utama informasi tersebut melalui mesin pencari. Kemudian bandingkan pemberitaan dari beberapa sumber.
Perhatikan apakah informasi mengenai nama, lokasi, tanggal, peristiwa, dan pernyataan konsisten.
Anda juga dapat menggunakan layanan pemeriksaan fakta seperti TurnBackHoax yang dikelola MAFINDO serta kanal Cek Hoaks Komdigi.
Jika hanya menemukan informasi tersebut pada unggahan media sosial tanpa sumber pendukung yang jelas, kita perlu lebih berhati-hati.
4. Periksa Foto dan Video
Foto dan video dapat membuat sebuah informasi terlihat sangat meyakinkan. Padahal, gambar yang asli sekalipun dapat digunakan dalam konteks yang salah.
Contohnya, foto peristiwa beberapa tahun lalu dapat dibagikan kembali dan diklaim sebagai kejadian hari ini.
Karena itu, periksa kapan dan dalam konteks apa gambar tersebut pertama kali muncul. Untuk gambar, pencarian gambar terbalik seperti Google Lens dapat membantu menemukan gambar serupa di internet.
Pada era kecerdasan buatan, kita juga perlu berhati-hati terhadap gambar, suara, dan video hasil manipulasi atau generatif. Namun, jangan menentukan suatu gambar sebagai AI hanya berdasarkan satu kejanggalan visual. Konteks dan sumber asli tetap perlu diperiksa.
5. Periksa Tanggal dan Konteks
Informasi yang benar pada suatu waktu dapat menjadi menyesatkan ketika dibagikan kembali tanpa konteks.
Misalnya, berita berjudul:
“Sekolah Diliburkan Mulai Senin.”
Beritanya mungkin asli, tetapi ternyata diterbitkan beberapa tahun sebelumnya atau hanya berlaku di daerah tertentu.
Karena itu, selalu periksa tanggal publikasi, lokasi kejadian, pihak yang mengeluarkan informasi, dan konteks lengkapnya.
Hal sederhana seperti memeriksa tanggal dapat mencegah kita menyebarkan informasi lama seolah-olah merupakan kejadian terbaru.
Kenali Tanda-Tanda Informasi yang Perlu Dicurigai
Kita perlu lebih berhati-hati apabila sebuah informasi menggunakan kalimat provokatif, meminta segera disebarkan, tidak menyertakan sumber asli, hanya menggunakan tangkapan layar sebagai “bukti”, mencatut nama lembaga tanpa tautan resmi, atau sengaja memainkan rasa takut dan kemarahan pembaca.
Namun, ciri-ciri tersebut bukan bukti otomatis bahwa informasi itu hoaks. Anggaplah sebagai tanda bahwa informasi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
Gunakan Prinsip SARING
Agar mudah diingat, pembaca Perpustakaan Usmani dapat menggunakan prinsip SARING sebelum membagikan informasi:
S — Sumber: Siapa yang menerbitkan informasi?
A — Amati: Baca seluruh isi, bukan hanya judul.
R — Referensi: Adakah sumber lain yang mengonfirmasi?
I — Identifikasi: Periksa foto, video, tanggal, dan konteks.
N — Nilai: Apakah bukti yang diberikan dapat dipercaya?
G — Gunakan dengan bijak: Jangan sebarkan sebelum yakin.
Jangan Menjadi Bagian dari Penyebaran Hoaks
Salah satu alasan hoaks dapat menyebar begitu cepat adalah kebiasaan membagikan informasi tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Ketika menerima informasi yang meragukan, tidak membagikannya adalah pilihan yang lebih baik daripada menyebarkannya hanya karena takut ketinggalan informasi.
Jika ternyata informasi tersebut salah, kita juga sebaiknya mengoreksinya menggunakan sumber yang dapat dipercaya.
Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan internet dan teknologi. Literasi digital juga berarti memiliki kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi yang kita terima dan bertanggung jawab terhadap informasi yang kita sebarkan.
Penutup
Membedakan hoaks dan fakta tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan melihat sebuah unggahan. Kita perlu memeriksa sumber, membaca informasi secara lengkap, membandingkannya dengan sumber lain, memeriksa foto atau video, serta memahami tanggal dan konteksnya.
Sebelum menekan tombol Bagikan, tanyakan tiga hal sederhana:
Siapa sumbernya? Apa buktinya? Sudahkah saya memeriksanya?
Dengan kebiasaan tersebut, kita dapat ikut menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Di Tulis oleh : Muhammad Ridwan
WhatsApp
Facebook
X
Telegram